RSS

Teori paulo freire

Pertama, kesadaran magis (magical consciousness). Adalah sebuah keadaan dimana seorang manusia tidak mampu memahami realitas disekitarnya sekaligus dirinya sendiri. Bahkan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya ia lebih percaya pada kekuatan takdir yang telah menentukan dan melihat kebenaran sebagai dogma (fatalis). Semua adalah kehendak Tuhan. Dalam kesadaran magis, orang hanya melihat hubungan antara dua hal yang akan saling mempengaruhi, bersifat linear. Mereka yang berada di kesadaran magis tidak mampu melihat hal lain yang menyebabkan mengapa mereka mengalami sesuatu. Mereka sadar mereka melakukan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengubahnya. Akibatnya, bukannya melawan atau mengubah realitas di mana mereka hidup, mereka justru menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Terima saja apa yang ada dan berharap pada kebaikan ’kaum penindas’, jangan mempertanyakan di luar hubungan linear tadi. ”Mengapa bodoh, karena tidak bersekolah”. ”Mengapa tidak bersekolah, karena tidak ada uang”. Dalam kesadaran ini, ’mereka menganggap dirinya sebagai obyek yang dikenai perlakuan, bukannya subyek yang mampu melakukan sesuatu’. Individu meyakini bahwa kebodohan adalah sesuatu yang sudah melekat pada dirinya.

Kedua, kesadaran naif (naival consciousness). Adalah keadaan dimana seseorang mulai mengerti akan adanya permasalahan namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial tersebut secara sistematis. Individu mulai tidak menerima semua yang selama ini telah terjadi begitu saja dan mulai pada proses berpikir dan mengidentifikasi terhadinya masalah-masalah. Proses identifikasi oleh individu tertindas ini kemudian menuju kepada proses ’menyalahkan’. Menyalahkan mengapa ini bisa terjadi pada dirinya, dan fokus jawaban berkisar kepada kesalahan penindas yang bergerak secara berlebihan di luar jalur, baik jalur norma atau hukum. Fokus dari kegiatan ’menyalahkan’ adalah pada diri individu penindas, bukan pada sesuatu yang lebih luas lagi, belum melihat kepada kesalahan sistem.  Dalam tahap ini individu sudah mulai bergerak dari kesadaran ’menyalahkan’ obyek (uang, tanah, pendapatan) dan keadaan yang tidak bisa dirubah lagi, menjadi sebuah kesadaran untuk ’menyalahkan’ orang-orang (penindas) yang bertindak ’menyeleweng’. Walaupun demikian, individu tetap mengikuti sistem, penguasa dan kata-katanya, juga terjadi proses peniruan yang dilakukan oleh individu tertindas untuk menjadi sama dengan penindas. Dalam kesadaran ini, individu-individu yang tertindas kemudian berusaha membentuk kelompok untuk mencari kekuatan dan dukungan, dan ini menjadi embrio yang nantinya akan melahirkan kesadaran yang lebih tinggi. Apabila dikaitkan dengan pendidikan, maka pendidikan dalam konteks ini tidak pernah mempertanyakan keabsahan sebuah sistem dan struktur yang salah.


Ketiga, kesadaran kritis (critical consciouness). Adalah sebuah keadaan dimana seseorang mampu berpikir dan mengidentifikasi bahwa masalah yang dihadapi harus ditelaah secara lebih dalam, bukan berfokus kepada individu-individu penindas yang menyimpang, tetapi kepada sistem yang menindas. Dalam tahap ini, individu memperoleh kesadaran bahwa dirinya tidak bisa dan tidak ingin untuk menyerupai penindas. Harus ada perubahan sebuah sistem secara menyeluruh, bukan pada pembaruan atau bahkan penghancuran individu-individu tertentu. Ada proses ’humanisasi’ di mana seorang individu ingin menunjukkan eksistensinya sebagai seorang manusia yang bebas menetukan dan berbeda. Dengan demikian, individu-individu yang terkumpul tadi telah terfokus pada etnisitasnya sendiri, ’bukan karena mereka membenci penindas dan sekedar ingin tampil beda, tetapi karena mereka ingin menjadi dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan jujur terhadap tradisi dan kebiasaan mereka sendiri’ (Smith, 2001 ; 81). Untuk mencapai kesadaran ini, individu memerlukan model ataupun peristiwa yang menjadi trigger atau panutan yang bisa mendorong dan menghantarkan seseorang bertransformasi dari kesadaran naif menjadi kesadaran kritis. Dalam tahap ini, ada kesadaran untuk ’memberontak’ dari sistem yang selama ini menindas dan mendirikan sistem baru yang lebih berkeadilan dan ’menghindari konsep-konsep’ yang telah diterima sebelumnya dalam menganalisis sesuatu. Poin yang perlu disadari adalah penindasan dan dehumanisasi bukanlah fitrah

0 komentar:

Poskan Komentar