RSS

Soto banjar with love



Aku Chaca, nama panjangku Raisya Nugraha Putri. Usiaku baru mengijak kepala dua, kata orang usia yang tepat untuk mencari pendamping hidup,ntah menagpa aku belum tertarik pada seorang lelaki diusiaku ini. Aku sedang menempuh pendidikan di universitas yang katanya termasuk ke dalam daftar terbaik se-Indonesia. Aku tinggal didaerah dekat kampusku, tepatnya di Depok namun berbatasan langsung dengan Jakarta.
Aku mempunyai seorang sahabat dia temanku dari waktu aku kecil, Farah Sisilia namanya -biasa dipanggi Farah-,  dia seusia denganku, dan menempuh pendidikan pada tempat dan jurusan yang sama denganku. Entah karena kedekatan kami berdua yang terlalu erat atau apa tapi kami  mendapat julukan anak kembar, padahal aku keturunan Yogyakarata tulen sedangkan dia keturunan Banjar tulen.
Keakraban kami telah lama terjalin dari kami balita hingga sekarang. Faktor utama karena rumah kami bersebelahan, selain dari itu kami juga saling pengertian dan menjaga rahasia masing-masing. Kami sering berdebat dan berdiskusi namun semua itu berjalan lancar, tanpa harus ada  pertengkaran, karena kami saling menghargai pendapat masing-masing. Terlebih lagi kedua orang tuaku dan kedua orang tua Farah sudah merasa seperti satu keluarga.
Selain dari semua hal yang disebutkan di atas ada lagi yang membuat aku dan farah lebih sering bersama, yaitu karena hobi kami sama-sama memasak. Mencari resep masakan baru, dan mencoba membuatnya, hingga jika hasilnya bagus kami pun berusaha untuk menjualnya bersama, uang yang kami dapat biasanya dijadikan untuk modal atau membeli peralatan masak yang terbaru.
Ada satu kisah yang mana ini menjadi awal cerita antara aku dan soto banjar.
Pada liburan semester yang lalu, aku diajak oleh Farah sekeluarga untuk ikut berlibur ke rumah neneknya Farah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terpikir olehku bahwa banjar itu tempat yang sangat jauh dan mungkin masih natural, hal ini yang membuata aku sangat tertarik untuk ikut ditambah lagi aku belum pernah pergi ke luar Pulau Jawa. Dengan sedikit bujuk- rayu kepada orangtuaku serta bantuan Farah yang meyakinkan orang tuaku, akhirnya aku diijinkan.
Esok hari kami -aku dan keluarga Farah- berangkat menuju kota yang mendapat julukan “kota seribu sungai” dari Bandar udara di cengkareng, dengan menempuh perjalan udara sekitar satu jam empat puluh lima menit, kami sampai di Bandar Udara Internasional Syamsuddin Noor, Bajarmasin. Kami dijemput oleh paman Farah dengan mobil yang jarang kujumpai diperkotaan, mobil dengan roda yang besar, seperti mobil untuk offroad kelihatannya. Perjalanan rupanya masih panjang, orang tua farah terlihat lelah tertidur didalam mobil, sedangkan aku dan farah takjub melihat daerah yang kami lalui. Pemandangan yang asing bagiku, walaupun sebenarnya kota Banjarmasin juga kota yang ramai, namun jalan, rumah, tempat perbelanjaan, perkantoran jauh lebih tertata dan tenang tidak terlihat sepadat di Pulau Jawa.
Perjalanan panjang kami akhirnya berakhir di suatu tempat dekat sungai yang lebar dan panjang tentunya yaitu sungai martapura, baru pertama kali ini aku melakukan perjalanan jauh yang pastinya melelahkan, tetapi rasanya semua lelah terbayarkan oleh pemandangan indah dari Kota Banjar dan sungainya yang khas yang terletak didekat rumah neneknya Farah.
Aku berkenalan paman dan tantenya Farah yang masih menetap di Banjar, mereka memang tidak merantau karena diamanahkan oleh keluarga besar Farah untuk mengurusi neneknya Farah -Dila namanya-. Setelah cukup lama berbincang dan beristirahat nenek Dila yang mengetahui bahwa hobi aku dan farah adalah memasak langsung mengajak kami berdua ke dapur untuk diajari masak masakan khas Banjar yang sudah terkenal diseluruh Indonesia, yaitu Soto Banjar. Nenek Dila masih memegan teguh resep soto banjar yang diberikan secara turun menurun dari nenek moyangnya.
Sejak pertama kali diajarkan memasak soto banjar aku sudah merasa tertarik, karena soto ini mudah dibuat namun memiliki cita rasa yang luar biasa lezatnya. Hari berikutnya aku mencoba membuatnya sendiri tanpa bantuan nenek Dila maupun Farah, dan ternyata aku bisa membuat soto banjar yang sama persis rasanya seperti yang nenek Dila buat.
Di meja makan nene Dila berceletuk “kamu calon orang banjar”. Semua yang berada dimeja makan tertawa renyah menanggapi celetukan tersebut dan aku pun ikut tertawa menanggapinya.
Seminggu kemudian aku dan Farah pulang ke Jakarta, kembali dengan hiruk pikuk kota metropolitan yang tiada habisnya, baru sampai di tengah kemacetan kota Jakarta, aku sudah rindu dengan kenyamanan dan ketenangan di Kota Banjar, “mungkin benar apa kata nenek bahwa aku akan menjadi orang banjar” gumamku dalam hati. Sejujurnya walaupun waktu itu hanya kutanggapi dengan tawa, namun selalu terngiang dalam hati dan pikiranku, “ apa mungkin aku akan jadi orang banjar?”.
Ada kajian mingguan dirumahku yang biasa diadakan sebulan sebelum Ramadhan. Padahal aku dan Farah sudah berencana untuk pergi ke bioskop. Karena aku pikir, kehadiranku tidak terlalu dibutuhkan maka aku kabur lewat pintu belakang, akan tetapi baru saja melangkah menuju pintu belakang, aku sudah di tarik ibu ke dapur. Ibu menyuruhku untuk memasak masakan andalanku setelah liburan kemarin yaitu soto banjar.
Aku kesal karena rencana yang aku buat dengan Farah gagal total, padahal aku sudah booking kursi bioskop dan juga sudah janji dengan teman yang lainnya untuk makan bersama direstoran baru. Dengan rasa terpaksa dan ketidakniatan aku untuk membuat soto banjar, maka dengan sengaja aku menambahkan banyak garam dan lada pada soto banjar yang nantinya akan dihidangkan untuk ustad yang sedang ceramah, dengan tujuan agar jika sang ustad kapok makan masakanku, dia akan menolak untuk disuruh makan dirumahku dan yang pasti aku tak perlu repot untuk memasak untuk pengajian diminggu berikutnya.
Ceramah selesai, sudah waktunya untuk makan, aku langsung disuruh untuk menemani ustad untuk makan, padahal sebenarnya aku berencana untuk kabur, takut-takut sang ustad mengadu tentang masakanku yang tidak enak itu kepada orangtuaku dan kemudian aku disalahkan. Saat menemani makan ustad mengajak aku berbincang-bincang, tanpa sengaja aku memandanginya. “Tampan juga” gumamku dalam hati, usai makan ustad hanya berkomentar “Masakannnya enak tetapi kurang pake perasaan”, aku salah tingkah karenanya, sungguh komentar singkat namun memiliki banyak makna, aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Kajian diminggu selanjutnya aku bersemangat untuk memasak masak sota banjar untuk Ustad. Aku ingin membuktikan bahwa aku dapat memasak soto banjar yang lezat ditambah dengan perasaan seperti yang ditantangnya minggu lalu.
Seperti minggu lalu aku menemani ustad untuk makan, Namun sebelum makan aku berkata kepadanya, “ Coba sekarang cicipin soto Banjar yang pake perasaan.”.  Ustad hanya membalas dengan senyum kemudian Ia mulai memakan soto banjar buatanku. Setelah makan aku bertanya bagaimana tanggapannya, ustad menjawab ini adalah soto Banjar yang sama persis dengan buatan ibunya.
Kami berbincang-bincang lebih lama dari minggu kemarin. Dia memperkenalkan dirinya kali ini, namanya Subhi dengan usia seperempat abad, tinggal di daerah Jakarta selatan bersama orangtuanya, Pasar Minggu tepatnya. Dia berkata bahwa dia hanya sementara di Jakarta, setelah gelar master dia dapat di akhir tahun ini, dia akan kembali ke kota asalnya yaitu Banjarmasin, maka tak heran jika dia sangat suka dengan soto banjar. Sebelum pulang dia berjanji untuk mengajak ibunya untuk mencicipi soto banjarku minggu depan.
Senang rasanya dia puas dengan masakanku apalagi di tambah dengan pujian, tetapi lebih dari itu ada perasaan bahagia yang lain yang aku tak mengetahui apa pastinya. Yang jelas senyum manis ustad Subhi selalu terbayang-bayang dimanapun dan kapanpun aku berada. “Apa mungkin aku jatuh cinta ya sama ustad itu?” pikirku.
Aku grogi dalam memasak soto banjar pada pecan ini. Dari hari sabtu aku sudah kalang kabut mencari bahan masakan, padahal bisanya minggu pagi aku baru pergi berbelanja. Entah mengapa, tapi aku ingin kali ini terlihat lebih sempurna, mungkin karena aku ingin menunjukan kemampuanku dalam memasak soto banjar sesempurna mungkin kepada ibunda ustad Subhi. Keluargaku dan Farah hanya heran melihat tingkahku diminggu ini.
Waktu yang aku tunggu tiba, ustad Subhi datang untuk mengisi kajian mingguan tak lupa dengan janjinya minggu lalu, kali ini dia datang bersama ibundanya. Dan seperti yang dia katakan kemarin, ibunya dia ajak khusus untuk mencicipi soto banjar buatanku. Walaupun sedikit tersanjung tetapi aku dibuat tegang oleh ibundanya selama waktu makan berlangsung. Raut wajah ibuya ustad Subhi terlihat kurang bersahabat, tak banyak bicara, tegas, dan berwibawa, mungkin memang karakternya begitu, pikirku.
Acara makan selesai, tiba-tiba ibunda ustad Subhi memanggilku, beliau menginginkan bicara empat mata denganku. Aku panik, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhku. Aku terus-menerus berprasangka buruk dalam hati. Mungkin dihina, dicaci atau bahkan mungkin dimarahi. Tetapi akhirnya aku bersyukur, semua prasangkaku salah. Seiring mengalirnya pembicaraan aku dan ibunda ustad subhi, ternyata beliau pribadi yang bertolak belakang dengan dugaanku yang pertama, beliau enak untuk diajak berbagi cerita, pantas saja menghasilkan anak yang begitu baik seperti ustad subhi, batinku dalam hati.
Setelah panjang lebar kami berbincang empat mata, ada suatu hal yang menjadi kejutan bagiku. Aku ditawari untuk menjadi chef di restoran banjar miliknya di daerah yang tidak jauh dari rumah ustad Subhi sekarang yaitu di daerah pasar minggu karena menurut beliau soto banjarku mirip seperti buatannya. Aku sangat bahagia mendengarnya, karena selain diberi pujian cita-cita aku adalah menjadi chef terwujud walaupun terasa tidak mungkin karna aku sedang menjalani pendidikan di fakultas hukum, bukan tata boga. Dengan kontrak aku sebgai chef part time selama aku masih kuliah, dan menjadi chef tetap jika aku sudah lulus. Tawaran yang sangat menguntungkan apalagi ditambah dengan fee yang lumayan besar. Mungkin malam ini aku tidak dapat tertidur, karena kebahagiaan yang tiada habisnya pada hari ini.
Keesokan harinya tiba-tiba ustad Subhi dan kedua orangtuanya datang ke rumah untuk bertemu dengan aku dan kedua orang tua. Hari ini aku kembali dikejutkan dengan keinginan ustad Subhi untuk meminangku. Dia memintaku untuk mau menjadi pendamping hidupnya. Aku sangat bahagia, karena sejujurnya aku juga mamiliki perasaan kepada ustad Subhi sejak pandangan pertama saat tragedy soto tanpa perasaan yangku buat untuknya. Dengan malu aku mengiyakan tawarannya dan ternyata disambut baik oleh kedua orangtuaku. Karena dalam islam tidak ada istilah pacaran, maka saat itu juga orangtua kami menentukan tanggal pernikahan dan membahas masalah pernikahan, dari mulai baju, tempat hingga tempat kami tinggal nantinya. Dan setelah diputuskan aku akan menikah bulan depan dan setelah wisuda aku dan ustad Subhi akan pindah ke Banjar untuk membuka restoran disana.
Ternyata yang dikatakan oleh nenek Dila menjadi kenyataan. Dan sekarang aku semakin mencintai soto bajar, karena dari soto banjar cita-cita ku dan cintaku tercapai.

0 komentar:

Poskan Komentar